MENUNGGU

Seorang Pengusaha Muda dari Timur tengah berangkat ke amerika untuk sesuatu urusan bisnis yg sebenarnya tidak terlalu penting, tapi berhubung dia juga ingin sekali berlibur untuk mengurangi beban pikirannya karena terlalu banyak pekerjaan. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sana.

Sampai di Bandara John F Kennedy, kejadian tak terduga terjadi, Paspor dan Visa nya ditahan dan dia dilarang keluar dari bandara. Dari petugas bandara dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi di negrinya ketika dia berada di atas pesawat selama 7 jam. Terjadi kudeta kekuasaan di negrinya, sehingga semua warganegara dilarang keluar negri oleh pemerintah yg berkuasa.

Pengusaha Muda tadi bingung mau apa sekarang, untuk kembali kenegaranya juga tak mungkin, karena semua penerbangan ke negaranya dibatalkan sampai batas yang tidak ditentukan. hal ini disebabkan karena faktor keamanan yang belum memungkinkan akibat pertikaian politik di negrinya.

Akhirnya dia memutuskan untuk menginap di Bandara karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Sebuah penantian yang menjenuhkan pikirnya. Padahal dia sendiri sebenarnya juga  masih bingung dengan tujuan dia pergi ke amerika. antara berlibur atau berbisnis.

tanpa diduga ketika dia sedang berjalan mengitari lorong bandara, sesosok wanita muda tengah di todong dengan senjata api oleh sekelompok mafia, jiwa pahlawannya muncul, dengan sigap dia sambar wanita tersebut sebelum peluru menembusnya, dia dengan wanita tersebut sudah berlari ke belokan lorong di depannya. Kejar mengejarpun terjadi. Tapi akhirnya bisa lolos dari pengejaran karena bebarapa petugas keamanan bandara mendengar letusan 2 senjata api di sini. sehingga para mafiapun terpaksa pergi. Tapi sewaktu waktu pasti akan kembali.

Setelah keadaan cukup aman , sang wanitapun mengatakan yang sebenarnya apa yang terjadi . Ternyata dia adalah saksi kunci  pembunuhan. Lama sang pengusaha muda itu termenung, ini berarti dia sudah ikut campur suatu urusan yang sangat besar, dia pasti akan jadi target kelompok mafia amerika.

akhirnya pengusaha muda itu memutuskan untuk melindungi gadis itu dari ancaman mafia yang setiap saat kembali ke bandara untuk membunuh wanita tadi.  Di masa penantian pulangnya ke negrinya tak ada salah nya dia membantu orang lain , meskipun dia harus mempertaruhkan nyawanya juga, mungkin ini lebih berarti daripada menunggu sambil bengong tak melakukan apa apa. Selang beberapa haripun kelompok mafia itupun datang lagi, hingga beberapa polisi dan petugas keamananpun jadi korbannya, tapi pengusaha muda itupun tetap saja berhasil menyelamatkan wanita tersebut dengan kelihaianya berlari dan sesekali berkelahi. Hingga satu persatu kelompok mafia tersebut dilumpuhkan dan di bawa oleh kepolisian setempat.

Bersamaan dengan selesainya drama berdarah selama beberapa hari  di bandara, Rupanya saat dinantipun datang juga.  penerbangan ke negaranya dibuka lagi setelah kondisi negrinya dinyatakan aman. Kini dia tak bingung lagi mau apa sekarang, tujuannya hanya satu,yaitu PULANG….

Dari cerita diatas dapat kita ambil suatu hikmah yang sangat berharga:

Di dalam hidup kita mungkin akan terjadi banyak sekali hal hal yang tidak terduga yang memaksa urusan kita tertunda dan kita harus menunggu, entah menunggu apapun.

Dalam masa menunggu, terserah kita mau pilih dengan cara apa, mengomel , memaki, menangis, marah, atau melakukan sesuatu yang bermanfaat seperti pengusaha muda tadi. Toh tetap saja kita harus menunggu.

Dalam hidup kita yang sebenarnya, semua orang sebenarnya juga sedang menunggu, yaitu menunggu pindah ke alam selanjutnya, yaitu alam kubur. perpindahan dari alam dunia ke alam kubur disebut Mati. itu artinya kita semua sebenarnya sedang menunggu mati.

Dalam masa ini, terserah pilihan kita , mau kita isi dengan apa, tidur, mabuk, menjadi penjahat, menjadi ilmuwan, atau papun yang sebenarnya secara garis besar di golongkan menjadi 2 . yaitu jalan yang lurus dan jalan yang sesat.

Alangkah bijaknya ketika dimasa penantian ini kita isi dengan hal hal yang bermanfaat , sehingga kita akan tahu betul kemana tujuan kita akhirnya..

yaitu:  PULANG……

DEMAM IDOL

“Sihir” program-program “Idol” di televisi sungguh luar biasa. Ribuan orang bernafsu menjadi peserta. Jutaan orang terlibat dalam acara itu melalui penghantaran SMS. Di AS, para peserta rela menginap dua hari di lapangan terbuka, hanya untuk menunggu giliran audisi. Di Malaysia, acara-acara sejenis, seperti Malaysian Idol, Akademi Fantasia, dan Audition, mampu meraup jumlah SMS puluhan juta, melebihi jumlah penduduk Malaysia. Di Indonesia, demam acara sejenis melanda sampai ke desa-desa. T-Shirt AFI ada juga yang dipakai pekerja Indonesia di Malaysia.

Demam acara “Idol” di berbagai negara merupakan gambaran more…

WASIAT DARI SYECKH ACHMAD-MADINA

Assalamu’alaikum wr. wb
Ketiga kalinya sudah saya menerima Email Berita dari masjid Nabawi ini. Pada saat menerima Email ‘Berita dari Masjid Nabawi’ yang pertama (kira-kira 2 tahun yll) saya tidak begitu merespon surat tersebut, dan memang tidak ada kejadian luar biasa terjadi. Hanya pernah terjadi sekeluarga mengalami sakit yang sama silih berganti, dan itu terjadi hingga 2 – 3 kali (saya pikir ach sakit flue biasa……). Kemudian Berita dari Masjid Nabawi yang ke 2, saya terima sekitar akhir tahun 2002 (tepatnya lupa) melalui sebuah milist dan kembali saya tidak merespon dengan baik email tersebut, bahkan justru mengkritisi Berita Dari Masjid Nabawi tersebut ; bahwa percaya kepada surat tersebut bisa menjadi syirik karena baik dan buruk kejadian yang kita alami ada ditangan Allah SWT.

Kejadian aneh pertama terjadi : Ada orang yang mengumpatumpat membaca coment saya tersebut more…

Jangan meremehkan orang

Satu sore di sebuah mal, seorang anak berusia sekitar 8 tahun berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah, berbinar-binar senyumnya saat dia masuk ke sebuah counter es krim ternama.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan es krim. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding lingkungan mal yg megah, mewah, indah dan harum.

“Mbak, Sunday cream berapa?” si bocah bertanya, sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat sedikit kepalanya,yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi. “Sepuluh ribu!” yang ditanya menjawab.

Si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya, menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya.

Kemudian sigap cepat si bocah menjinjit lagi. “Mbak, kalo Plain cream yang itu berapa?”

Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain yang mengantri. “Sama aja, sepuluh ribu!” jawabnya.

Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya.
“Kalau banana split berapa, Mbak?”

“Delapan ribu!” ujar pramusaji itu sedikit menghardik tanpa senyum.

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, “ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”. Kemudian si bocah menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu.

bananasplit

Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada si bocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan yang tampak lebih rapi dan berdandan trendi banyak sekali mengantri.

Detik berlalu menit, dan menit berlalu. Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain. Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi.

Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak. Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, di baliknya.Ditemukan 2 recehan 500 rupiah dibungkus selembar seribuan. Apakah ini? Tips? Terbungkus rapi sekali… rapi !

Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. Ia tersadar, sebenarnya sang bocah tadi bisa saja Menikmati Splain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat di kerongkongannya. Disapu seluruh lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.

dari: Dibalik sepiring banana splits