DEMAM IDOL
“Sihir” program-program “Idol” di televisi sungguh luar biasa. Ribuan orang bernafsu menjadi peserta. Jutaan orang terlibat dalam acara itu melalui penghantaran SMS. Di AS, para peserta rela menginap dua hari di lapangan terbuka, hanya untuk menunggu giliran audisi. Di Malaysia, acara-acara sejenis, seperti Malaysian Idol, Akademi Fantasia, dan Audition, mampu meraup jumlah SMS puluhan juta, melebihi jumlah penduduk Malaysia. Di Indonesia, demam acara sejenis melanda sampai ke desa-desa. T-Shirt AFI ada juga yang dipakai pekerja Indonesia di Malaysia.
Demam acara “Idol” di berbagai negara merupakan gambaran yang tepat dari sebuah proses globalisasi di bidang “fun” atau hiburan. Pada kenyataannya, globalisasi semakin mengarah kepada satu bentuk ‘imperialisme budaya’ (cultural imperialism) Barat terhadap budaya-budaya lain. Prof. Amer al-Roubaie, pakar Globalisasi di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), mencatat: “It has been widely acknowledged that the present waves of global culture trends are mainly of Western products, spreads across the world by the advancement in electronic technologies and various form of media and communication systems. Terms such as cultural imperialism, media imperialism, cultural cleansing, cultural dependency and electronic colonialism are used to describe the new global culture as well as its implications on non-Western societies.”
Berbagai kajian tentang fenomena globalisasi telah banyak diungkapkan. Namun, kuatnya arus konsumerisme, hedonisme, dan ‘narkotikisme’ yang dijejalkan kepada masyarakat dunia melalui berbagai acara-acara hiburan, memang sulit dibendung. Sihir-sihir dunia showbiz begitu menawan dan menyapu akal sehat. Manusia terus dijejali cara berpikir pragmatis dan hedonis, untuk melahap apa saja, menikmati hidup, tanpa peduli apakah cara yang dilakukannya menghancurkan nilai-nilai akhlak dan agama. Jika liberalisasi di bidang moral sudah berlangsung, maka sebagian kalangan akan mencoba-coba mencari legitimasi dari agama, sebagaimana dalam kasus homoseksual di Barat.
Rasulullah saw sangat mengkhawatirkan dampak dari perilaku ulama jahat (as-su’) terhadap amsyarakat. Ulama yang keliru dan salah lalu menyebarkan ilmunya yang salah, jauh besar pengaruh negatifnya ketimbang pastor yang salah.
Karena para remaja tidak menemukan lagi ‘panutan’ dan tidak mendapatkan ‘tuntunan’ dari para ulama, maka mereka mencari tuntunan pada dunia tontonan. Mereka lebih menghormati selebritis yang hobi mengumbar aurat, ketimbang ulama. Dalam masyarakat yang sakit, masyarakat, pers, pengusaha, dan pemerintah, jauh lebih menghormati dan memuliakan Artika Sari Devi, putri Indonesia 2004, dan Taufik Hidayat, ketimbang Septinus George Saa, pemenang medali emas dalam ajang First Step to Nobel Prize in Physics, 30 Maret 2004.
Fenomena ini menjadi tugas para ulama sejati untuk menelaah, memahami, dan mencarikan solusinya. Bangsa Indonesia – terutama calon presidennya – seyogyanya sadar bahwa mereka sedang berada dalam arus imperialisme budaya global yang dahsyat dan melenakan serta membuai kemiskinan dan kenistaan bangsa dengan “narkobaisme” dalam dunia hiburan. Imperialisme budaya membutuhkan “idol” dan sekaligus menciptakan “mitos-mitos” yang memang tumbuh subur dan berurat berakar dalam tradisi Barat, sejak zaman Yunani kuno.
Di era globalisasi, idolisasi dan mitosisasi terus dibangun untuk berbagai tujuan dan kepentingan. Arus besar Idolisasi dan mitosisasi Barat yang mengandung unsur-unsur “narkotikisme”, telah melibas nurani dan akal sehat, membuai banyak manusia dengan hiburan.
Jika mau bertahan dan survive, Indonesia, dalam kondisi seperti ini, membutuhkan “al-Ghazali”, dan “Shalahuddin al-Ayyubi” yang mengembangkan peradaban berbasis ilmu dan keyakinan; bukan lagi kelas “Ken Arok” dan “Ken Dedes” yang mengembangkan peradaban berbasis keris, batu dan ‘pesona badan’. Wallahu a’lam



yeah..
[Reply]